INDRA WIDYASTUTI
WASPADA ONLINE
MEDAN - Sektor infrastruktur menjadi modal utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Kota Medan. Apalagi, dengan beroperasinya Bandara Internasional Kuala Namu nantinya, ekonomi daerah dipastikan akan semakin mempercepat pengembangan di Sumatera Utara.
Walikota Medan, Rahudman Harahap hari ini mengatakan itu. Untuk mendorong dan mengembangkan perekonomian di daerah itu, katanya, infrastruktur harus mendapat perhatian serius. Dia menyebutkan, proyek-proyek infrastruktur strategis yang sedang dikerjakan dan direncanakan sampai tahun 2015 di Medan yaitu pengembangan fly over Jamin Ginting dan Pinang Baris, pembangunan under pass Brigjen Katamso, pembangunan jalan lingkar luar, pengembangan dermaga Pelabuhan Perikanan, Pelabuhan Peti Kemas Belawan dan Pelabuhan Dermaga Penumpang Belawan.
Selain itu, perluasan jalan Medan-Belawan, perluasan jalan tol Belmera, pembangunan pasar induk tuntungan dan pasar induk Marelan. "Intinya sektor infrastruktur. Bagaimana ke depan Pelabuhan Belawan akan lebih cepat pelayanannya sehingga bisa difungsikan menjadi pelabuhan yang strategis. Termasuk fly over dan pengembangan kawasan kota ini," katanya usai membuka Seminar Nasional MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) Koridor Sumatera, hari ini.
Walikota menambahkan, dengan pindahnya Bandara Internasional Polonia di Medan ke Bandara Internasonal Kuala Namu di Deli Serdang nanti, hal itu akan memunculkan kota-kota baru, tentu akan semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi di Medan. "Kita berharap, dengan berfungsinya (bandara) Kuala Namu, akan bisa mendorong dan mengembangkan ekonomi Kota Medan," tandasnya.
Namun demikian, paparan walikota mendapat kritikan tajam dari Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Anwar Nasution. Menurut mantan Ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) ini, untuk merealisasikan MP3EI di Sumut, kuncinya adalah infrastruktur. "MP3EI itu kuncinya infrastruktur, listrik, dan tenaga kerja. Ini yang harus disiapkan," katanya hari ini.
Anwar menuturkan, jika infrastruktur itu tidak dipersiapkan, maka MP3EI hanya sebatas angin surga dan mimpi. "Jangan hanya akan-akan, bagaimana seluruhnya. Kalau tidak ada listrik, bagaimana pabrik bisa bekerja. Berdoa sajalah tiap malam. MP3Ei juga begitu, kuncinya listrik, jalan, dan tenaga kerja," ungkapnya.
Anwar menyebutkan, pemerintah tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membangun infrastruktur yang memadai. Karena itu, partisipasi swasta sangat diharapkan untuk merealisasikannya. "Infrastruktur, pemerintah tidak punya uang. Belajarlah kita melihat orang India. Bagaimana mereka mengundang partisipasi swasta. Mereka sudah bikin jalan, subway," bebernya.
Sebelumnya, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut, Hervian Thahier, kepada Waspada Online, menegaskan bahwa dana yang diperlukan untuk mendukung progam MP3EI di Sumut mencapai Rp200 triliun. "Tiga puluh empat triliuan itu terlalu jauh karena tidak akan cukup. Sumut butuh 200 triliun kalau mau berhasil," tegasnya.
Kata Hervian, besaran biaya yang dipaparkan oleh Bappeda Sumut yang hanya membutuhkan Rp34 triliun untuk 21 proyek besar di Sumut tidak seberapa dibandingkan dengan daerah lain seperti di provinsi Sulawesi Selatan. "Sumatera Utara layak mendapat nilai anggaran untuk proyek MP3EI di kisaran Rp200 triliun. Nah ini menjadi tugas pemerintah daerah, seharusnya Sumut bisa dapat 200 triliun. Dan ini juga harus didorong, jangan hanya membicarakan proyek tanpa direalisasi," katanya dengan tegas.
(dat03/wol)
WARTA KARTUN HARI INI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar