Kenapa J.K. Rowling Merasa Terancam Media?

Written By Catatan Humla on Jumat, 25 November 2011 | 22.09

Jum'at, 25 November 2011 | 10:31 WIB

TEMPO.CO, London - Penulis J.K. Rowling, 46 tahun, mengatakan bahwa media Inggris membuatnya merasa seperti tahanan di rumahnya sendiri. Pengakuan itu ia sampaikan di depan pengadilan London pada Kamis, 24 November 2011. Pencipta tokoh Harry Potter ini mengeluhkan etika penyelidikan oleh media Inggris yang menempatkan wartawan berkemah di depan pintu rumahnya.

Menurut dia, cara-cara tak etis itu membuatnya merasa seperti dikepung dan seperti seorang sandera. “Kelakuannya benar-benar seperti kavaleri,” kata Rowling.

Di pengadilan yang sama, aktris Sienna Miller, 31 tahun, juga mengungkapkan keluhan serupa. Menurut Miller, selama bertahun-tahun mobilnya diburu para wartawan siang dan malam, kehidupan pribadinya diungkap. Semua itu membuat aktris yang membintangi G.I. Joe ini merasa tak dihormati, paranoid, dan cemas.

Kedua pesohor itu adalah saksi yang menceritakan bagaimana menjadi sorotan tabloid Inggris, yang mengganggu kehidupan mereka. Aktor Hugh Grant dan supermodel Elle Macpherson juga mengaku sebagai korban media Inggris.

Rowling mengaku tidak siap dengan perhatian media ketika buku pertamanya, Harry Potter and the Philosopher's Stone, meledak di pasaran pada 1997. Tujuh buku Harry Potter telah terjual lebih dari 450 juta eksemplar diikuti oleh meledaknya film-film Harry Potter yang membuat Rowling salah satu orang terkaya di Inggris. “Tak seorang pun memberi Anda buku panduan ketika Anda menjadi terkenal,” ujarnya.

Setelah itu, juru foto dan wartawan sering mangkal di depan rumahnya. Dia akhirnya pindah tempat ketika wartawan sudah mengetahui letak rumahnya. “Rasanya seperti terancam ketika banyak orang melihat Anda,” kata dia. “Saya marah karena gedung sekolah putri saya yang berusia lima tahun tidak aman lagi dari serbuan wartawan.”

Dia menceritakan saat mengawali hubungan dengan Neil Murray, yang kini menjadi suaminya, Murray memberikan detail data pribadinya melalui telepon kepada wartawan yang mengaku sebagai petugas pajak. Artikel tentang Murray kemudian muncul di sebuah tabloid. “Itu bukan awal yang menyenangkan saat terlibat dengan orang terkenal.”

Adapun Miller mengatakan di depan pengadilan, cerita-cerita tentang kehidupan pribadinya di tabloid menggiringnya menuduh teman dan keluarganya membocorkan informasi ke media. Ternyata, telepon selulernya disadap oleh News of the World. Rupert Murdoch menutup tabloid miliknya itu pada Juli 2011 setelah sejumlah wartawannya terlibat penyadapan ilegal.

Miller menggugat tabloid itu ke pengadilan dan pada Mei lalu tabloid itu bersedia membayar US$ 160 ribu kepadanya. Perusahaan induk tabloid itu kini menghadapi sejumlah tuntutan atas perbuatan serupa.

SAPTO YUNUS | AP


View the original article here

Tidak ada komentar:

Posting Komentar